Ternyata, FIFA dan Conmebol Sempat Memaksa Superclasico Tetap Digelar

JawaPos.com – Laga final Copa Libertadores resmi ditunda. Aksi penyerangan terhadap bus yang ditumpangi para penggawa Boca Juniors jadi penyebabnya. Boca pun menolak melakukan pertandingan karena mencemaskan keamanan mereka saat berada di kandang River Plate, Stadion Monumental. 

Laga Superclasico ini seharusnya digelar pada Minggu (25/11) dini hari WIB. Namun, akhirnya ditunda karena situasi kurang memungkinkan untuk menggelar laga. Dalam laga penting bagi River Plate dan Boca Juniors tersebut dihadiri langsung oleh Presiden FIFA, Gianni Infantino.

Gianni memang menjadi satu di antara orang-orang penting yang duduk di tribun VVIP El Monumental sore itu waktu setempat. Artinya, Infantino pasti mengetahui langsung seberapa kacau kondisi di kandang River Plate saat itu. Begitu pula dengan kondisi pemain-pemain Boca Juniors yang menjadi korban.

Akan tetapi, menurut laporan media-media Argentina, Infantino malah enggan jika laga leg kedua final Copa Libertadores tersebut sampai ditunda. Sama seperti penundaan dalam leg pertama di La Bombonera-kandang Boca, 11 November lalu.

”Conmebol juga ingin supaya kick off laga tersebut hanya ditunda sejam. Bukan diundur,” tulis Fox Sports.

Padahal sebelum muncul keputusan penundaan laga, sudah ada permintaan dari Chairman Boca, Daniel Angelici supaya pertandingan itu tak dilangsungkan saat itu. Makanya, keputusan penundaan pertandingan itu baru keluar secara resmi setelah lebih dari dua jam pascainsiden.

Striker senior Boca, Carlos Tevez juga menyebut ada pertemuan yang dilakukan para petinggi FIFA, Conmebol, dan Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) terkait status laga tersebut. Saat diwawancarai Juan Arango -jurnalis Huffington Post-Tevez mengaku para petinggi tersebut sempat memaksa laga tetap berjalan sesuai jadwal.

”Mereka memaksakan ke kami supaya bermain beberapa menit. Namun sikap kami tak berubah,” ungkap penyerang yang berjuluk Carlitos itu.

Tevez termasuk pemain Boca yang jadi korban serangan. Mantan penyerang Manchester United itu sempat merasakan pusing dan muntah-muntah karena efek dari gas air mata kepolisian Buenos Aires ketika membuyarkan kerumunan massa. ”Itu reaksi alergi saya,” klaim Tevez.

Bomber 34 tahun itu menyayangkan sikap dari orang-orang penting itu. ”Mereka sampai memaksa kami bermain padahal rekan setim saya tidak dalam kondisi terbaik,” tambahnya.

Dia juga mengungkapkan kondisi di dressing room Boca saat itu yang sangat panik. Pasalnya para penggawa Boca kesulitan untuk menghubungi keluarga mereka usai insiden yang menimpa bus tim. ”Bahkan, hanya untuk mengabari keluarga kami kalau kami baik-baik saja juga tidak bisa. Kami tidak bisa melakukan komunikasi,” tutup Tevez. 

Editor      : Agus Dwi W
Reporter : (ren)