La Liga Kritik Penambahan Kompetisi Buah Pemikiran UEFA

JawaPos.com – Carut marut dalam kompetisi sepak bola tidak hanya terjadi di Indonesia saja. Hal demikian rupanya dialami juga oleh negara-begara Eropa.

Salah satunya menyangkut keputusan UEFA terhadap liga-liga di Benua Biru. Tercatat pada awal bulan ini, UEFA menyetujui pengadaan kompetisi anyar, yakni UEL2. Kompetisi itu akan berlangsung pada 2021 mendatang.

Nantinya sebanyak 32 klub dari liga berperingkat rendah akan mengisi kompetisi tersebut. Dengan adanya penambahan itu, maka ototomatis klub-klub yang ikut dalam pertandingan antar benua akan bertambah banyak. Dari 80 klub berubah menjadi 96 klub.

Melihat hal tersebut, Javier Tebas, Presiden La Liga turut berkomentar. Dia menilai keputusan demikian justru dapat membuat kompetisi menjadi tidak merata.

“Saat liga-liga di Eropa telah menerima kompetisi antarklub kasta ketiga diperkenalkan, UEFA tidak dapat membuat keputusan ini secara terpisah dari liga-liga yang terkena dampak dari keputusan ini,” ujarnya.

Salah satu dampak nyata dari adanya penambahan kompetisi ini adalah membuat liga-liga kasta yang lebih tinggi jadi tertekan. Alhasil celah pemisah akan semakin lebar.

“Liga 2 Eropa akan memberikan tekanan yang lebih besar kepada klub-klub yang lebih kecil, yang saat ini menjadi contoh persaingan sehat dan pertumbuhan sepak bola Eropa. Hal ini akan menciptakan kesenjangan yang lebih besar antara liga-liga yang mendapatkan keuntungan dari sepak bola Eropa dan mereka yang tidak,” ungkapnya.

Bahkan beberapa CEO dari liga-liga kecil di beberapa negara Eropa turut mendukung langkah La Liga dalam mengkritik kebijakan UEFA. Mereka menilai jika direalisasikan maka peluang tim-tim liga kecil untuk bersaing semakin menipis.

“Liga Swiss dan klub-klubnya sangat prihatin akan daftar akses terbaru yang disetujui oleh UEFA untuk UEL2. Meninjau posisi kami saat ini, jumlah klub-klub Swiss yang berkesempatan untuk bertanding di kompetisi Eropa masih tetap sama,” ungkap Claudius Schafer selaku CEO Swiss Football Leaguage.

“Namun, dengan format baru, kami akan memiliki lebih sedikit klub yang berlaga di UEL dan lebih banyak klub yang bermain di UEL2, yang merupakan kompetisi dengan level serta gengsi yang lebih rendah. Akses untuk bermain di UEL menjadi semakin ketat, seiring dengan tekad Liga Champions untuk menjadi kompetisi sepak bola yang lebih elit,” sambungnya.

Mereka semua berharap, sebelum adanya keputusan ini, seharusnya UEFA harus berpikir matang-matang terlebih dahulu. Sebab jika tetap dilakukan, maka akan turut mempengaruhi pendistribusian keuangan dalam Liga Champions.

Editor      : Bagusthira Evan Pratama
Reporter : (mat/JPC)